Namaku sam, aku murid SMA di sekolah A. Aku salah satu pria yang menjadi incaran para gadis, namun mataku tertuju kepada seorang gadis manis, periang, dan cantik. Gadis itu bernama Cinta. Aku tidak tahu, sejak kapan aku mulai memperhatikan gerak-geriknya, yang aku tahu perasaan ini sudah cukup lama, dan hatiku selalu damai ketika melihatnya tersenyum. Apakah ini cinta? Tidak sedikit wanita cantik di sekolahku, dari seorang model, artis, dan bahkan anak-anak penjabatpun sekolah di sini. Namun, tetap.. Mataku tertuju pada senyum gadis itu.
Entah bagaimana caranya, aku pun tak tahu. Bagaimana bisa sekarang aku mempunyai status dengan Cinta? Sampai sekarang pun, aku masih tidak habis pikir, kenapa Cinta menerima cintaku. Semakin hari, semakin aku mengenal Cinta. Dan aku tahu, aku menemukan seseorang yang selama ini aku cari. Buktinya, dia selalu ada ketika orangtuaku tak ada di sampingku, buktinya dia selalu ada ketika aku membutuhkannya, buktinya dia tidak pergi meninggalkanku ketika aku terjebak dalam dosa oba-obat jahanam itu.
Aku sedih, aku menyesal, dan untuk pertama kalinya aku menangis. Bukan, bukan karena orangtuaku bercerai,namun karena Cinta menangis. Ya, aku telah mengambil harta yang paling berharga darinya, keperawanannya. Walaupun aku tahu Cinta mencintaiku, namun aku selalu menghargainya. Tapi, semuanya sirna begitu saja, hanya karena 1butir obat jahanam itu. Aku benar-benar terpukul saat Cinta memberitahuku bahwa dirinya hamil, ya hamil anakku. Siapa lagi bapak bagi anak yang Cinta kandung, kalau bukan aku? Aku bingung, aku sedih, jujur aku takut. Takut, jika Cinta tak ada di sisiku lagi. Dan akhirnya, aku menikahi Cinta, tanpa restu kedua orangtua kami, karena mereka mengusir kami.
Kami hidup dengan sisa uang di tabungan ku dan Cinta. Namun, sial.. Aku sudah terlanjur, menjadi seorang pecandu. Sudah terlambat untukku keluar dari semua jeratan obat-obatan jahanam itu. Hal ini di buktikan dengan kejadian dulu, sempat Cinta tidak membelikan aku obat itu, dengan alasan uang kami hampir habis. Awalnya, aku hanya tersenyum dan menganggap semua akan baik-baik saja. Namun, kenyataannya.. Tubuhku meriang, tubuhku seperti tanda-tanda sakaw yang dulu guruku ajarkan di sekolah. Karena aku tidak kuat menahan semuanya, Cinta aku pukuli karena dia tega tidak membelikan barang sebijipun obat itu. Aku kacau, aku benar-benar kacau. Dan, saat aku mulai sadar, aku menyesal telah memukul Cinta dan membuatnya menangis. Kebiasaan ini, selalu terjadi bila sakawku kumat. Dan, ingin hasratku menahan untuk tidak memukul Cinta, namun sia-sia. Aku tak bisa menahannya. Aku takut, bila nanti Cinta tidak kuat, dan meninggalkanku.
Tidak, tidak bagi Cinta. Kau tahu? Cinta sama sekali tidak mengeluh, Cinta tak pernah mengucapkan hal-hal yang aku takutkan. Cinta tidak meninggalkanku, setiap kali aku memukulinya, dia selalu tersenyum kearahku, dan memeluku dengan penuh kasih sambil menyanyikan lagu yang menenangkan jiwa.
"tenanglah tenang, aku di sisimu selalu ada menjagamu...... Tenang yah sayang, everything is gonna be okay."
Dan aku selalu seperti anak kecil, yang selalu tertidur di pangkuan ibunya ketika ibunya mengelus-elus kepala anaknya dan menyanyikan lagu nina bobo.
Hal yang paling mengenaskan dalam hidupku adalah, melihat dengan mata kepalaku sendiri calon anakku meninggal, dan meninggal karena ulahku. Yaaa, ulahku.. Karena, aku terlalu keras memukul Cinta. Dan, dengan tanganku sendiri, aku mengubur calon anakku di belakang kontrakan dimana aku tinggal, aku melihat istriku duduk lemas di lantai, sambil menyaksikan calon anaknya aku kubur di dalam tanah. Aku tahu, aku tahu Cinta terpukul, aku tahu Cinta menjerit dalam hati. Aku benar-benar menyesal. Dan, aku bertekad untuk berhenti memakai obat-obatan itu lagi.
----------------------------------
Hari ini, untuk pertama kalinya Cinta marah kepadaku. Yaa, karena aku mencuri uang hasil kerjanya untuk membeli obat-obatan itu lagi. Aku panik, lagi-lagi aku takut bila Cinta mengucapkan kata-kata yang tidak ingin aku dengar. Namun, tidak.. Cinta lagi-lagi tak melakukan itu. Cinta hanya marah, dan di akhiri oleh tangisan. Aku sedih, lebih baik aku di pukul, aku di tendang, aku di tampar, daripada harus melihat Cinta menangis lagi.
Hal yang aku takutkan akhirnya datang, Cinta memasukan aku ke rehabilitasi, aku gag tahu. Apakah ia membenciku, makanya dia memasukan aku ke tempat keramat itu? Apakah dia sudah tidak kuat hidup dengan aku? Aku tidak tahu. Aku hanya menatapnya, dan memohon agar dia tidak meninggalkan aku sendirian di tempat itu. Namun, Cinta mengacuhkan aku. Awalnya aku sedih..
"Kamu udah gag sayang yah sama aku?"
"Sayang.. Aku masih saayang.."
"Tapi kenapa?? Kamu koq tega sih?"
"Aku gag sanggup jika lihat kamu menderita terus Sam, aku ingin kamu seperti dulu, yang belum menjadi seorang pecandu. Aku harap kamu ngerti" Cinta memeluku, dan menciumku, dan lagi-lagi dia berkata "everything is gonna be okay." Aku menjalani hidup di rehab sekarang-karang ini, kau tahu? Aku merasakan kesepian, aku sedih dan merasa hampa ketika aku tahu Cinta tak ada di ranjangku. Aku selalu menantikan malam, karena Cinta selalu menjengukku disini, di saat jam-jam pulang pabrik. Dia bercerita tentang para biarawati, tentang anak-anak kecil yang selalu mengajaknya main, ya.. Dari dulu memang Cinta menyukai anak-anak kecil, dan dia sering bercerita tentang rekan-rekan kerjanya. Aku senang walau sempat hanya 15menit dia menjengukku, karena dia harus pulang karena Romo sedang sakit, dan dia ingin merawatnya.
-------------------------------
Aku menanti-nantikan Cinta datang, namun sudah semalaman ini dia tidak menunjukan batang hidungnya. Kemana dia? Apakah dia sakit? Aku tetap menunggu, berharap dia datang. Walau aku tahu, itu mustahil, karena jam tidur sudah di bunyikan. 1bulan, 2 bulan, dan berbulan-bulan Cinta tak pernah datang lagi menjenggukku, melainkan sekarang mami yang sering membawakan makanan-makanan mewah untukku. Entahhh.. Apa yang sedang terjadi kepada Cinta? Apakah dia sudah tidak mencintaiku? Apakah dia menemukan pria yang lebih baik dari aku? Entahlahh.. Aku tetap tidak mengerti, dan setiap malam aku selalu menantikan kehadirannya untuk memamerkan lagu-lagu yang sudah menumpuk yang sengaja aku buat untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar